
Di pelosok Kabupaten Sukabumi dari sebuah rumah sederhana, lantunan ayat suci Al-Qur’an tak pernah berhenti. Di sanalah Ratih Indriyani, seorang guru ngaji disabilitas, lulusan Rumah Tahfidz Qur’an DT Peduli Sukabumi menebarkan cahaya Al-Qur’an untuk anak-anak di desanya.

Dengan segala keterbatasan fisik, Ratih justru menjadi teladan keteguhan. Setiap sore, ia mengajar hampir 40 anak. Mereka belajar duduk berdesakan di lantai, di ruang sempit dengan fasilitas seadanya. Namun semangat menghafal dan membaca Al-Qur’an tak pernah surut.

Bahkan Ratih kini dipercaya mengajar di Madrasah Tsanawiyah di kampungnya, perjalanannya memakan waktu sekitar 2 hingga 2,5 jam dari Kota Sukabumi, dengan kondisi jalan rusak dan berlumpur.
Namun bagi Ratih, dakwah Al-Qur’an tak mengenal lelah.

Di balik keteguhannya, Ratih hanya menyimpan satu mimpi sederhana: memiliki tempat ngaji yang layak. Bukan untuk dirinya, tapi agar anak-anak di pelosok negeri bisa belajar Al-Qur’an dengan nyaman dan khusyuk.
Mimpi itu sejalan dengan firman Allah SWT:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir: 29)

Sahabat peduli, perjuangan Ratih adalah perniagaan akhirat yang tak pernah merugi. Setiap uluran tangan Anda akan menjadi amal jariyah, mengalir dalam setiap ayat yang dibaca, setiap doa yang terlantun, dan setiap generasi Qurani yang tumbuh.
Mari bersama DT Peduli, kita wujudkan mimpi Ratih. Dari keterbatasan, Allah menyalakan cahaya dan melalui kepedulian kita, cahaya itu bisa terus menyala.